Skip to main content

Posts

Showing posts with the label fiksi

Aku, Dia, Cinta, dan Diam

Jadi begini rasanya mencintai diam-diam. Melihatnya dari kejauhan saja, senangnya luar biasa bukan main. Ya, aku mengaguminya bahkan sekaligus mencintainya sudah hampir 6 tahun, secara diam-dialm. Seharusnya cintaku bunyi, tak cuma diam. Sebab kami saling mengenal satu sama lain, dan bahkan sering membuat konversasi yang menyenangkan, walau hanya sekadar melalui messenger. Yudha Andhika, ialah nama lengkapnya. Dia adik kelasku ketika SMA lalu. Kami cukup dekat, sebab dia berpacaran dengan sahabatku. Saat itu, aku tak jatuh cinta, cuma sekadar kagum akan kepandaiannya. Entah, buatku, lelaki yang pandai selalu mempunyai kharisma tersendiri, terlebih dia mampu bergaul dengan banyak orang. Kabar putusnya hubungan Yudha dengan Leona -sahabatku- tak memberi kebahagian tersendiri bagiku, sebab aku tak mungkin bisa membuatnya menoleh dan meminta hatinya. Cukup mencintainya saja, bukan untuk memiliki hatinya, ujar benakku. Waktu berjalan. Siapa bilang waktu tak mempunyai kaki? Fils...

Cinta Bilang

Hari ini, kita dipertemukan lagi di ruang yang sama. Cinta bilang, kita pernah punya rasa. Cinta bilang, rasa bukan lagi milik kita. Cinta bilang, sisih sisa rasa masih ada dari satu di antara kita. Cinta bilang, maaf. Katanya, akulah yang masih enggan melepas tumpukan memorial semasa denganmu. Kuanggap katanya omong kosong, tapi nyatanya ia tak bohong. Nyatanya, kepura-puraan tegarku kini gegar ketahuan. Cinta mengangkat dagu, ia berlagak sombong. Kebenaran rasa membuat ia semakin merasa tinggi, Kemudian kudengar samar cekikikannya. Saat itu, hatiku bergolak tak lagi kuat menahan angkuhnya cinta. Serasa ingin membenci cinta, tapi logika tunduk padanya. Tak lagi tahu harus berbuat apa, selain membiarkan cinta berbilang. Tak lagi tahu harus melakukan apa, selain menunggu cinta menyerah dan membiarkan cinta lain menggantikan perannya.

Malam Minggu, dan Dua Cangkir Kopi Hangat yang Mendingin

Mungkin adalah aib, jika di Malam Minggu reremaja seperti aku ini hanya berdiam diri di rumah saja. Sebenarnya hanya sekedar malas ketika Ibu bertanya “Kamu nggak pergi sama pacarmu?”, mungkin pikiran Ibu masih kolot dan merasa sedang berada di jamannya; diapeli kekasihnya dan dibawakan martabak manis rasa cokelat susu, rutin setiap Malam Minggu. Ah, itu pasti pikir Ibu. Karena menghindari pertanyaan Ibu yang seperti itu, mau tidak mau aku harus melepas rasa nyaman berada di atas kasur dan melepas headphone dari musik-musik Coldplay yang sedang terputar merdu dari iPod ber- case warna merahku ini. Yang mengesalkan lagi adalah, berpikir siapa yang harus kukencani, ah maksudku sekedar menemani minum kopi di sebuah Kafe, seperti itu. Senja hilang, datang malam. Tanda sebentar lagi Ibu mengetuk pintu untuk mengajak makan malam bersama, dan tentu Ibu sudah menyiapkan pertanyaan yang-sangat-sangat-malas-untuk-kujawab. Dengan cepat aku meng- scroll phone number di contact smar...