Skip to main content

Posts

Kalau Tak Cinta, Pasti Tak Akan Luka

“Kamu di mana?” Entah sudah berapa banyak text message dariku yang memenuhi layar handphone -nya tapi tak digubris juga. Pun entah berapa puluh banyak Missed Call dariku yang ikut menyemaraki. Randi sengaja menghindariku, atau memang ada sesuatu di luar kendali yang terjadi? Seingatku, tak ada masalah besar antara kita di hari-hari yang lalu.  Entah ada apa dengan dia hari ini, menghilang 24 jam tanpa ada kabar, tak seperti biasanya. Perasaanku tak enak. Sejenak pikiran itu membawaku melangkah mendekati tempat tinggalnya, di sebuah kost pria di daerah Jakarta Selatan. Kuketuk pintunya, padahal kutahu kalau isi kamarnya kosong, tapi tetap saja kuketuk pintunya. Berharap ada jawaban, tetapi tetap saja tak ada. Kemudian ada langkah mendekat yang kudengar dari belakangku. “Mbak, cari Mas Randi ya?” “Iya, Bu. Ada kepentingan.” “Mas Randi tadi pagi pergi. Katanya mau ke luar kota. Ke Solo kalau nggak salah. Ada urusan kerjaan katanya.” Ucap Ibu-ibu separuh baya yang sambil m...

Aku Sebut Ini Bahagia

“Aku memang bukan siapa-siapa. Untuk mendapatkanmu, aku sudah siap-siap jika perjuanganku sia-sia.” - Ucap Halyan, kala itu di lini kala. Entah tulisanmu barusan itu untuk siapa, atau cuma sekedar kumpulan kata-kata yang tak begitu berarti apa-apa buatmu, bagiku ialah luar biasa. Aku begitu suka permainan katamu dari perpaduan “siap-siap” dan “sia-sia” bergabung dalam kata “siapa-siapa” sampai menjadi tulisan yang begitu berarti buatku. Dari sudut pandangmu aku tahu bahwa kamu begitu berjuang untuk menjadi siapa-siapa ketika mendapatkan, dan sudah bersiap-siap kalau perjuanganmu nyatanya cuma sekedar sia-sia. Sayang, sangat berartinya dia bagimu. Siapapun dia, kuharap kamu dapatkan dan merupakan kebutuhanmu.   Iya, kebutuhanmu. Semoga sampai tak kau jadikan dia Tuhanmu. Sayang, aku turut bahagia atas bahagianya kamu. Bukan, bukan karena bahagiamu dengan yang lain. Kurasa semua pun tahu, bahagia atas itu, cuma sebatas semu. Tetapi karena saat ini, kamu sedang bersamaku. A...

Rindu, Kamu, Hujan, dan Garis Mati

Surat cinta ke-3 yang kubuat hari ini, ialah curahan hati tentang rindu kepada kamu, yang semalam tertahan karena hujan yang begitu cemburu terhadap bersamanya kita. Ini ialah curahan hati yang kusimpan di draft, semalam. “ Entah kenapa, aku tak suka hujan malam ini. Hujannya terlalu penuh ego, tak sedikitpun punya rasa kasihan terhadap sepasang hati yang berharap mendapati temu yang dijanjikan malam ini. Padahal malam ini kubiarkan kosong, kukhususkan untuk kita. Karena mulai besok, begitu padat dengan banyaknya tugas yang sudah mendekati garis mati. Hujannya penuh ego. Menahan kita agar tak menuntaskan rindu, dibiarkan menggunung, kemudian menghanyut bersama air lumpur yang menggenang. Malam ini, aku menyalahkan hujan. Dan besok malam, aku akan menyalahkan garis mati. Kemudian besok lusa akan menyalahkan hujan lagi, lalu garis mati, bergiliran, berulang. Kepada kamu dan rindu, salahkan saja hujan dan garis mati. ” Semoga besok malam tak lagi hujan, pun tug...