Skip to main content

Posts

Aku Sebut Ini Bahagia

“Aku memang bukan siapa-siapa. Untuk mendapatkanmu, aku sudah siap-siap jika perjuanganku sia-sia.” - Ucap Halyan, kala itu di lini kala. Entah tulisanmu barusan itu untuk siapa, atau cuma sekedar kumpulan kata-kata yang tak begitu berarti apa-apa buatmu, bagiku ialah luar biasa. Aku begitu suka permainan katamu dari perpaduan “siap-siap” dan “sia-sia” bergabung dalam kata “siapa-siapa” sampai menjadi tulisan yang begitu berarti buatku. Dari sudut pandangmu aku tahu bahwa kamu begitu berjuang untuk menjadi siapa-siapa ketika mendapatkan, dan sudah bersiap-siap kalau perjuanganmu nyatanya cuma sekedar sia-sia. Sayang, sangat berartinya dia bagimu. Siapapun dia, kuharap kamu dapatkan dan merupakan kebutuhanmu.   Iya, kebutuhanmu. Semoga sampai tak kau jadikan dia Tuhanmu. Sayang, aku turut bahagia atas bahagianya kamu. Bukan, bukan karena bahagiamu dengan yang lain. Kurasa semua pun tahu, bahagia atas itu, cuma sebatas semu. Tetapi karena saat ini, kamu sedang bersamaku. A...

Rindu, Kamu, Hujan, dan Garis Mati

Surat cinta ke-3 yang kubuat hari ini, ialah curahan hati tentang rindu kepada kamu, yang semalam tertahan karena hujan yang begitu cemburu terhadap bersamanya kita. Ini ialah curahan hati yang kusimpan di draft, semalam. “ Entah kenapa, aku tak suka hujan malam ini. Hujannya terlalu penuh ego, tak sedikitpun punya rasa kasihan terhadap sepasang hati yang berharap mendapati temu yang dijanjikan malam ini. Padahal malam ini kubiarkan kosong, kukhususkan untuk kita. Karena mulai besok, begitu padat dengan banyaknya tugas yang sudah mendekati garis mati. Hujannya penuh ego. Menahan kita agar tak menuntaskan rindu, dibiarkan menggunung, kemudian menghanyut bersama air lumpur yang menggenang. Malam ini, aku menyalahkan hujan. Dan besok malam, aku akan menyalahkan garis mati. Kemudian besok lusa akan menyalahkan hujan lagi, lalu garis mati, bergiliran, berulang. Kepada kamu dan rindu, salahkan saja hujan dan garis mati. ” Semoga besok malam tak lagi hujan, pun tug...

Objek Imajinasi, Sumber Inspirasi

“Dia sumber inspirasi, objek imajinasi, bahkan yang sering aku jadikan peran di beberapa tulisan. Aku bukan dari sekadar mengaguminya, tetapi bahkan sampai mencintainya.” Kicauannya masih sering menghiasi lini kala punyaku, pun kurasa di beberapa lini kala kalian. Kicauan renyah dari 140 karakter yang diolah sedemikian rupa, entah dengan bumbu apa dia meraciknya, yang pasti, selalu bisa membuat bibir melengkingkan senyum dengan hentakan tawa. Lini kala punyanya itu memang candu. Aku beruntung, aku dapat mengenalinya dari dua dunia sekaligus. Maya, dan nyata. Keduanya sama, mampu membuat konversasi yang menyenangkan, penuh tawa. Meskipun di nyata agak sedikit lebih pendiam, tetapi selalu mampu membuatku senyum-senyum sendirian. Tak pedulilah aku dibilang gila atau tak waras oleh mereka. X)) Ya, aku menyukai lini kalanya lebih dari setahun lalu. Aku ialah salah satu pemerhatinya di antara beberapa yang lain. Sampai suatu ketika, ada kicauannya yang mampu membuat jemari g...

Kamu Yakin Tak Bisa Hidup tanpa Aku?

Kemarin, aku bertemu dengan seseorang yang pernah berarti di masa lalu, tanpa sengaja. Seseorang yang pernah berbilang bahwa ia tak bisa hidup tanpa adanya aku di sampingmu. Bertemu denganmu, mengembalikan beberapa ingatan tentang pernah ada kita, tentang deskripsimu yang melemah ketika berakhirnya kita. Kemudian kutanya kabarmu kini, berharap jawabannya akan sama dengan pernyataanmu beberapa waktu lalu. Ternyata jawabanmu berbeda. Lalu kutagih janji dari pernyataanmu, tetapi kau malah mengganggapku gila. Satu hal yang tak bisa kuterima, jika tak bisa memenuhi dan melengkapi janji, jangan sembarang bicara. Nyatakan semua yang nyata, yang bisa diterima logika, pun hati. Satu lagi, kau sempat bilang "namanya juga manusia", seolah semuanya sama sepertimu, yang begitu senang meninggikan hati, tetapi lebih sering meninggalkan janji.

Aku dan Kamu, Cangkir dan Kopi Panas

Malam itu, kita membuat konversasi yang sedikit tanggung di hadapan secangkir kopi, tengah malam. Kamu yang penuh dengan candaan, dan aku yang kadang menyeriuskan cecandaan buatanmu itu, sampai larut ke koversasi yang pelik, tentang hati. Kamu   : “kopinya tinggal satu cangkir nih.” Aku      : “ya terus?” Kamu   : “aku kopinya, kamu cangkirnya. Haha” Aku     : “kamu kopi, dan aku cangkirnya? Kamu tahu, kopi dan cangkir memang bisa satu, tapi mereka tak akan pernah bisa saling bercumbu?” Kamu   : “kok begitu?” Aku    : “air kopi, selalu tak pernah dibiarkan sampai penuh, tak pernah dibiarkan sampai  menyentuh bibir cangkir.” Kamu   : “kalau ada yang meminumnya, kita kan bisa bercumbu. Aku jadi bisa menyentuh bibirmu.” Aku     : “haha! Kita bisa saling bercumbu tapi melalui perantara, maksudmu? Bibir kita dihisapi yang lain, begitukah?” Kamu   : “be...

Masih Ada Jatah Jatuh Cinta

“Tuhan sedang menghukumku, hukuman yang aku tolak sebelumnya, yang karena aku pernah rasa sebelumnya, yang aku tahu konsekuensinya, dan yang pernah aku tahu bagaimananya. Ya, jatuh cinta. Tapi kali ini aku tunduk dengan penghukuman yang Ia beri. Tak lagi mengelak seperti sebelumnya. Tuhan Maha Pemberi Rasa. Maha Segalanya” Aku, seorang mahasiswi semester 7 dari perguruan tinggi swasta di Jakarta, yang begitu mudah mengagumi orang-orang yang menurutku pantas untuk dikagumi karena kehebatannya, yang cuma sekedar kagum dan tak pernah beranggapan bahwa jatuh cinta itu ada. Aku begitu mudah bergumam kagum kepada siapa saja yang pandai meracik kata menjadi sajian bacaan yang penuh bumbu, pria yang pandai bermain alat musik, pria yang pandai bercerita, mereka yang menghargai hidupnya, aku memang pandai dalam kagum-mengagumi. Ya, itu aku. Aku cuma percaya mengagumi, dan suka terhadap sesuatu, bukan untuk mencintai. Mungkin benar yang mereka bilang, aku sedang menutup pintu hati, tak...

Dunia yang Sempat Terlupakan

Aku masih saja berdiri di tempat yang sama, tubuh yang sama, dan bahkan rasa yang sama. Orang-orang berubah, kemudian rasa berubah, tetapi masih saja aku di sini dan tak pernah mau beranjak dari rasa yang kupikir paling manis, dan tentu saja begitu sayang untuk dilupakan. Aku masih kuat bertahan. Sampai kapanpun. Meskipun sebagian dari mereka bilang bahwa itu hanya sekadar pemaksaan hati yang masih saja ingin memiliki. Kemudian mereka menyuruhku melupakan rasa, membuang asa, dan segala tentangmu. Kenapa mereka begitu bodoh? Jelas, begitu susah menyusun kisah, mereka bilang lupakan saja? Aku begitu yakin, masih ada sisih sisa rasa bersemayam di hatimu. Meskipun hanya benar-benar sedikit, setidaknya masih ada. Bagaimana benar-benar bisa hilang, ribuan hari bersama menjalin kisah, bisa lenyap hanya karena tiga kata yang diucapkan sepersekian detik? Mustahil. Dengan bekal pola pikir yang seperti itu, aku tak lelah mengejar lagi rasa yang sempat tertinggal, berharap mampu mengubah ...